Penyerahan Diri di Getsemani

| Sabtu, Maret 30, 2013 |
Markus 14:34 "Lalu kata-Nya kepada mereka: 'Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.'"

Apakah Anda pernah merasa kesepian?
Pernahkah Anda merasa seolah-olah teman-teman dan keluarga telah meninggalkan Anda?
Apakah Anda pernah merasa disalahpahami?
Apakah Anda pernah merasa sulit untuk memahami atau tunduk pada kehendak Allah?

Jika demikian, maka Anda bisa membayangkan apa yang Tuhan Yesus lalui ketika Dia menderita di Getsemani.

Kitab Ibrani memberitahu kita, "Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya" (Ibrani 4:15-16)

Alkitab mengatakan bahwa Yesus adalah orang yang "dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan" (Yesaya 53:3a)
Namun kesengsaraan yang Dia alami di taman Getsemani pada malam sebelum penyaliban-Nya, tampaknya menjadi puncak dari semua kesengsaraan yang pernah Ia rasakan, yang akan mencapai puncaknya pada keesokan harinya.
Kemenangan akhir yang akan berlangsung di Kalvari, pertama kali telah dicapai di bawah pohon-pohon zaitun tua keriput di Getsemani.

Menarik untuk diketahui bahwa kata Getsemani berarti "tempat pemerasan minyak zaitun".
Buah zaitun diperas untuk diambil minyaknya, dan memang benar, pada saat itu Yesus tengah ditekan dari berbagai sisi demi membawa kehidupan bagi kita.
Saya tidak berpikir jika kita bisa memahami apa yang akan segera Ia hadapi.

Namun lihat apa yang telah dicapai oleh penyaliban Yesus.
Penyaliban-Nya membawa keselamatan bagi Anda dan saya.
Atas apa yang Yesus lalui di Getsemani dan di atas kayu salib, kita sekarang dapat memanggil nama-Nya.
Meskipun ini adalah hasil dari transisi yang menyakitkan, mengerikan, dan sulit dibayangkan, penyaliban-Nya penting untuk mencapai tujuan akhir.

Mungkin sekarang Anda sedang berada pada titik tersulit dalam hidup Anda-Getsemani Anda, jika Anda menganggapnya demikian.
Anda memilki tekad, Anda tahu apa yang Anda inginkan, tetapi Anda merasa jika kehendak Allah berbeda dengan Anda.
Lalu akankah Anda membiarkan Allah memilihkannya untuk Anda?
Apakah Anda bersedia mengatakan, "Tuhan, aku menyerahkan kehendakku kepada-Mu. Bukan kehendakku tapi kehendak-Mu yang jadi"?
Jika Anda bersedia mengatakannya, maka Anda tidak akan menyesal telah mengambil keputusan itu.
____________________________________

Bacaan Alkitab Setahun :
Hakim-hakim 4-6; Lukas 4:31-44
____________________________________

Kesengsaraan yang Dia alami di taman Getsemani pada malam sebelum penyaliban-Nya, tampaknya menjadi puncak dari semua kesengsaraan yang pernah Ia rasakan.
(Diterjemahkan dari Daily Devotion by Greg Laurie)
____________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to Top