Menjadi Puas Adalah Proses Belajar

| Sabtu, Februari 29, 2020 |

1 Korintus 4: 7-8 "Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya? Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian, bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kamipun turut menjadi raja dengan kamu."

Ketimbang terlalu fokus pada apa yang tidak kita miliki dan apa yang tidak terkabulkan, kita bisa bersyukur atas apa yang kita miliki. Tidak mudah untuk melakukan ini, bagi Anda dan saya, bahkan bagi rasul Paulus sekalipun, katanya, "Saya telah belajar untuk menjadi puas." Bersyukur adalah proses pembelajaran.

Alkitab mengatakan dalam 1 Korintus 4: 7-8, "Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya? Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian, bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kamipun turut menjadi raja dengan kamu."

Iri hati disebabkan oleh mitos bahwa Anda memerlukan lebih banyak untuk bisa bahagia. Iri hati selalu memandang orang lain dan bertanya, "Mengapa mereka? Mengapa mereka pantas mendapatkannya? Saya pantas mendapatkan apa yang mereka miliki." Namun rasa syukur mengatakan, "Mengapa saya? Mengapa Tuhan memberikan saya ini? Saya diberkati karena saya tidak layak mendapatkan apa yang saya miliki." Rasa syukur benar-benar membalik perspektif kita.

Meskipun kita semua bergumul dengan rasa iri, sulit buat kita mengakuinya karena itu adalah perasaan yang buruk. Ketika Anda iri pada orang lain, Anda benar-benar ingin mereka gagal, karena itu membuat Anda merasa lebih baik dibanding mereka karena mereka tidak memiliki lebih daripada Anda. Itu gila, bukan? Jika seandainya kita bisa belajar untuk bersyukur atas apa yang kita miliki, kita bisa mulai menyingkirkan perasaan iri.

Penting untuk dipahami bahwa rasa iri tidak memiliki keinginan atau hasrat atau tujuan. Memiliki kehendak dan tujuan itu baik. Iri hati tidak menantikan sesuatu atau berharap bahwa sesuatu dapat terjadi dalam hidup Anda atau bahkan bertanya-tanya apakah Anda harus memiliki sesuatu. Sebaliknya, iri hati berarti membenci seseorang yang telah memiliki apa yang Anda inginkan atau yang telah mencapai tujuan yang belum Anda dapatkan. Iri hati berkata Anda tidak bisa bahagia sampai Anda mendapatkan keinginan atau tujuan itu.

Namun Alkitab memberi tahu kita bahwa kita sudah memiliki lebih dari yang kita butuhkan dan jauh lebih banyak daripada yang layak kita dapatkan. Setiap hal baik dalam hidup kita ialah hadiah dari Allah, dan terserah Dia untuk memutuskan kapan dan bagaimana Dia memberkati kita. Terserah kita untuk memilih untuk bersyukur dan memaksimalkan apa yang telah kita terima.

Seperti yang dikatakan Pengkhotbah 6: 9, "Lebih baik melihat saja dari pada menuruti nafsu. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin."

Renungkan hal ini:
- "Ketika Anda iri pada orang lain, Anda benar-benar ingin mereka gagal, karena itu membuat Anda merasa lebih baik karena mereka tidak memiliki lebih daripada Anda." Bagaimana pernyataan ini menantang Anda untuk mempelajari rasa iri yang Anda rasakan kepada orang lain?
- Apa satu cara mudah yang bisa Anda lakukan untuk mengucapkan rasa syukur Anda hari ini?



Bacaan Alkitab Setahun :
Bilangan 23:1-18; Markus 7:14-37


Iri hati tidak bersyukur atas apa yang sudah Anda miliki.
(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back to Top