Ibadah Raya

GSJA Sword Building 2nd Floor

Setiap Hari Minggu dimulai jam 08.00 WIB


Ibadah ini diperuntukkan bagi umum. Sekolah Minggu tersedia bagi setiap grup umur anak pada kebaktian ini. Orang tua sangat disarankan untuk membawa anak mereka ke Sekolah Minggu. Ibadah ini dilayani langsung oleh Ps. David Djaja namun tidak jarang juga dilayani oleh Pendeta tamu.

Ibadah Raya GSJA Sword, Setiap Hari Minggu Jam 8.00
| Rabu, Desember 31, 2008 | ,

Duties Rosters (Ibadah Pengerja)

GSJA Sword Building 2nd Floor

Setiap Selasa dimulai 19.00 WIB


Ini adalah ibadah doa pengerja yang diwajibkan bagi seluruh pengerja di GSJA Sword Generation Ministry. Disini para pengerja akan saling mebagi impartasinya dan setiap minggunya sharing dibawakan oleh orang yang berbeda-beda dan denga suasana yang berbeda pula. Pada minggu pertama setiap bulannya akan dipimpin oleh team komit yang ditentukan yang biasa disebut dengan Komits Nite.
| Rabu, Desember 31, 2008 | ,

Ibadah Dewasa Muda

GSJA Sword Building 2nd Floor

Setiap Hari Sabtu dimulai 19.00 WIB


Ibadah ini diperuntukan bagi mereka yang masih memiliki jiwa muda. Tidak tertutup bagi mereka yang usia diatas 40 tahun pun apabila masih memiliki jiwa muda dapat bergabung di ibadah ini. Ibadah yang di rangkai secara menarik dengan pujian dan penyambahan ditambah dengan session yang berbeda setiap minggunya.

| Rabu, Desember 31, 2008 | ,

Ibadah Youth

GSJA Sword Building 2nd Floor

Setiap Hari Minggu dimulai 11.00 WIB


Ibadah yang dihadiri oleh para pelajar yang masih sekolah dan berkuliah ini cukup menarik, karena di ibadah ini mereka akan memuji dan menyambah Tuhan di tambahakan dengan tamborin team yang menyemarakan suasana dan juga suguhan menarik lainnya seperti drama atau segmen yang menarik keterlibatan setiap jemaat pelajar yang datang.

Ibadah Pelajar GSJA Sword, Setiap hari Minggu Jam 11.00
| Rabu, Desember 31, 2008 | ,

Ibadah Sakinah Glory

GSJA Sword Building 2nd Floor

Satu Bulan sekali *tergantung Jadwal


Ibadah ini khusus bagi mereka yang telah menikah dan berumah tangga. Dalam ibadah ini akan banyak membahas masalah seputar pernikahan yang bertujuan untuk membekali para pasangan Kristiani iini untuk menjaga pernikahan mereka agar semakin kuat sampai maut memisahkan mereka.

| Rabu, Desember 31, 2008 | ,

Ibadah Men Sword and Spirit Woman

GSJA Sword Building 2nd Floor

Satu Bulan sekali *tergantung Jadwal


Ibadah ini adalah ibadah gabungan bagi mereka pria sejati dan wanita bijak. Pada awal ibadah akan dimulai bersama-sama dalam sesi pujian dan penyambahan dan setelah itu akan sipisah antara laki-laki dan perempuan dan masuk dalam sesi sharing yang private antara pria dengan pria dan wanita dengan wanita.


| Rabu, Desember 31, 2008 | ,

Sekolah Minggu

GSJA Sword Building 3rd Floor
Setiap Hari Minggu dimulai 08.00 WIB

Sekolah Minggu (Sword Kidz) adalah bagian yang luar biasa dari rangkaian kebaktian gereja. Kebaktian-kebaktian ini terbagi ke dalam tiga kelas: Little Heaven, Kingdom Kid dan Christ Crew.

Anak-anak anda pasti akan menikmati pengajaran disini dan berbagai aktivitas seperti pujian penyembahan dengan guru sekolah Minggu dan teman sebaya mereka. Didukung dengan fasilitias luar biasa (permainan, peralatan kelas bewarna-warni dan juga berbagai kegiatan menarik, kebaktian sekolah minggu ini menjadi tempat yang menyenangkan untuk anak-anak anda belajar firman Tuhan.

Jika anda berencana untuk membawa anak anda, anda bertanggung jawab untuk menjemput mereka setelah kebaktian; anak-anak anda tidak akan diijinkan keluar ruangan kelas sebelum anda muncul dan menjemput mereka.

Sekolah Minggu GSJA Sword, Setiap Hari Minggu Jam 08.00
| Rabu, Desember 31, 2008 | ,

RENUNGAN - 28 Desember 2008


Menelusuri Alkitab – Terang Dunia


Banyak orang berkata: ‘Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita?’Biarlah wajah wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN!” (Mazmur 4:6).


“Sebab Engkau telah meluputkan Sebab Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, bahkan menjaga kakiku, sehingga tidak tersandung; maka aku boleh berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan” (Mazmur 56:13).


“Terang orang benar bercahaya gemilang, sedangkan pelita orang fasik padam” (Amsal 13:9).


“Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia” (Yohanes 1:6-9).


“Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat” (Yohanes 3:19).


“Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: ‘Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup’” (Yohanes 8:12).


“Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi” (Ibrani 1:3).
| Sabtu, Desember 27, 2008 |

RENUNGAN - 27 Desember 2008


Jadilah Terang Dunia
Matius 5:14-16


Yesus berkata, “…'Akulah Terang dunia…” (Yohanes 8:12). Dia juga berkata kepada semua pengikut-Nya, termasuk orang percaya yang hidup di zaman ini, “Kamu adalah terang dunia…” (Matius 5:14). Kedua pernyataan ini benar, karena orang Kristen memiliki peran sebagai pelita Kristus. Walaupun kita bukanlah sumber terang, tetapi kita adalah orang-orang yang memegang dan membawa terang itu.

Orang-orang yang jatuh ke dalam dosa dan keputusasaan dapat memandang kepada kita sebagai orang percaya dan mereka bisa melihat pengharapan yang ada di dalam kita. Dari dalam, kita memancarkan kebenaran Yesus Kristus, yaitu pesan Injil mengenai keselamatan yang memberikan pengampunan terhadap dosa. Kita mengizinkan Dia menyinari kita, pada saat kita melakukan firman-Nya di dalam setiap perkataan, tindakan, dan kepribadian kita. Gaya hidup yang benar memerlukan perhatian khusus karena berbeda sekali dengan keegoisan dan ketidakpuasan yang merupakan ciri khas dari dunia. Banyak orang yang melihat terang di dalam diri kita, sehingga mereka menginginkan juga Yesus masuk ke dalam hidup mereka. Mencerminkan diri-Nya adalah tugas yang diberikan Allah kepada semua orang percaya, sehingga kita harus tetap menjaga nyala api yang kita miliki. Artinya kita harus menjaga hubungan kita dengan Tuhan, dengan menghabiskan waktu untuk berdoa dan membaca firman-Nya. Sebaliknya, jika kita memilih keputusan yang tidak bijaksana, semangat kita kepada Allah pun akan mulai berkurang dan orang yang belum percaya tidak akan bisa melihat kepuasan atau sukacita di dalam diri kita. Kita juga harus menjaga cahaya pelita kita dengan tetap bertahan terhadap pencobaan. Dosa mengotori kesaksian orang percaya. Bagaimanapun, ketika kita melakukan dosa, “catatan” kita akan dibersihkan lagi melalui pengakuan dan pertobatan.

Anda sudah diberikan suatu keistimewaan yang luar biasa, yaitu dengan mencerminkan Yesus Kristus kepada dunia ini. Janganlah membiarkan kecerobohan atau tindakan yang salah memadamkan api Anda. Orang-orang di sekeliling Anda sungguh membutuhkan tuntunan “pelita” Anda untuk sampai kepada Terang Dunia yang sejati.
| Sabtu, Desember 27, 2008 |

RENUNGAN - 26 Desember 2008




Terang Dunia
Yohanes 1:1-5




Nabi Amos telah meramalkan bahwa akan datang waktunya “kelaparan” rohani, yaitu masa di mana tidak akan ada lagi nabi di tengah-tengah bangsa Israel dan orang-orang tidak akan mendengar firman Tuhan lagi (Amos 8:11). Beberapa abad kemudian, Zakaria, ayah dari Yohanes pembaptis, mematahkan kebisuan yang telah terjadi selama 400 tahun itu dengan meramalkan “…'Surya pagi dari tempat yang tinggi menyinari mereka yang diam di dalam kegelapan dan di dalam naungan maut” (Lukas 1:78-79). Zakaria sedang memberitahukan tentang kelahiran Yesus ke dalam dunia yang mengalami kegelapan rohani. Inilah keadaan seperti yang digambarkan oleh rasul Paulus mengenai keadaan umat manusia tanpa Kristus: “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” (Roma 1:21). Seperti itulah juga keadaan yang dialami oleh orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus hari ini. Kegelapan menutupi dunia ini karena manusia hidup di dalam keputusasaan dan kesia-siaan dengan hidup menuruti keinginan daging yang tidak akan pernah terpuaskan.


Terang yang dipancarkan oleh Yesus Kristus telah membuat manusia bisa melihat dengan jelas seperti apakah diri mereka yang sesungguhnya. Mereka adalah orang-orang berdosa yang sangat membutuhkan Juruselamat. Ketika kita mengizinkan pengharapan yang bisa kita miliki di dalam Dia memasuki hati kita, maka kegelapan itu akan sirna. Menerima-Nya sebagai Juruselamat memiliki pengertian bahwa semua dosa yang telah kita perbuat diampuni dan hukuman maut telah ditiadakan. Tujuan kedua dari terang yang dipancarkan oleh Anak Manusia adalah untuk menunjukkan jalan kebenaran bagi kehidupan kita sehingga kita tidak tersesat dan hidup di dalam pencobaan. Siapapun yang memilih untuk berjalan di dalam terang, yaitu untuk mematuhi perintah-Nya dan hidup berdasarkan kehendak-Nya, tidak akan berjalan di dalam kegelapan (Yohanes 8:12).
| Sabtu, Desember 27, 2008 |

RENUNGAN - 25 Desember 2008


Kisah Natal Dari Injil Lukas
Lukas 2:1-19

Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.

Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.

Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:


"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita." Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya
| Sabtu, Desember 27, 2008 |

RENUNGAN, Rabu 24 Desember 2008


Malam Untuk Diingat

Yesaya 7:14; 9:2-7

Natal adalah malam yang tidak pernah terlupakan karena di malam itu Allah datang ke dunia dengan rupa manusia melalui Yesus Kristus. Kelahiran-Nya yang sederhana merupakan awal dari karya keselamatan Bapa yang luar biasa bagi umat manusia, yang meliputi beberapa hal, yaitu:

Inkarnasi. Dari peristiwa kelahiran-Nya dalam rupa manusia, Yesus sepenuhnya adalah Allah dan juga sepenuhnya manusia (Kolose 2:9). Sifat manusia dan sifat keilahian bersatu dengan sempurna di dalam tubuh-Nya. Dengan kata lain, Yesus tidak menghilangkan sisi keallahan-Nya, namun Dia juga memiliki sisi kemanusiaan yang sempurna. Tetapi Dia lebih memilih untuk berserah kepada kehendak Bapa-Nya dan tinggal sebagai salah satu dari kita. Melalui kehidupan-Nya sebagai manusia posisi Yesus adalah tetap sebagai Anak Allah, tetapi bersamaan dengan itu Dia juga adalah manusia yang tidak dinodai oleh dosa.

Penyingkapan tentang Allah. Anak Manusia datang ke dalam dunia sehingga kita sebagai manusia bisa mengenal seperti apakah Bapa. Yesus berkata, “Barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku” (Yohanes12:45).

Dikenal oleh Manusia. Dengan menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia (Matius 8:20; Markus 10:33, 45), Yesus telah memperkenalkan diri-Nya secara keseluruhan kepada kita. Dia tinggal bersama dengan kita dan yang terpenting Dia juga mengenal penderitaan dan kematian di dalam rupa manusia. Melalui penyaliban, Dia mengetahui apa yang menjadi dampak dari dosa sehingga Dia rela memikul dosa kita (II Korintus 5:21). Kesempurnaan yang dimiliki oleh Yesus membuat diri-Nya memenuhi syarat untuk mati menggantikan tempat kita dan menebus semua dosa-dosa kita.

Dibandingkan indahnya kelahiran seorang bayi, apa yang terjadi di Natal pertama jauh lebih dahsyat daripada itu. Allah hadir dalam rupa manusia dan tinggal bersama kita sehingga memungkinkan kita untuk bersatu kembali dengan-Nya. Halleluya!
| Rabu, Desember 24, 2008 |

RENUNGAN, Selasa 23 Desember 2008


Makna Natal

Matius 1:18-25

Ketika Yesus lahir ke dunia, hanya sedikit orang yang menyadari bahwa Dia lebih dari sekadar bayi biasa. Hal ini sama seperti yang terjadi sekarang ini. Banyak orang yang menghadiri ibadah di malam Natal dan menikmati berbagai tradisi Natal, tetapi mereka melupakan tiga pertanyaan penting, yaitu: Apakah Yesus benar-benar Allah? Mengapa Dia datang ke dunia? Apa dampak kelahiran-Nya bagi saya?

Kitab Kejadian, yang merupakan kitab pertama dari Alkitab, diawali dengan Firman, “Pada mulanya Allah…” Adakah bukti bahwa Yesus sudah ada sejak awal mula? Bukti yang pertama adalah Injil yang keempat, yaitu Injil Yohanes, yang diawali dengan pernyataan tentang keberadaan-Nya, “Pada mulanya adalah Firman [yaitu Yesus]…'dan Firman itu adalah Allah” (Yohanes 1:1, 14). Yesus juga menyatakan keberadaan-Nya ketika Dia meminta Allah untuk memuliakan-Nya, “ Dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada” (Yohanes 17:5). Bukti yang kedua, diperlihatkan melalui berbagai mujizat yang dilakukan-Nya. Yesus membuat orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, dan menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Kata-kata-Nya sendiri juga memberikan pembuktian. Dia berkata, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30) dan “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”(Yohanes 14:9).

Pertanyaan kedua dan ketiga dapat dijawab di saat yang bersamaan. Yesus datang ke dunia ini bukan untuk menghakimi kita, seperti yang dipikirkan oleh beberapa orang, tetapi Dia datang dengan sebuh misi, yaitu untuk menyelamatkan kita dari segala dosa kita (Yohanes 12:47). Dia berjalan bersama kita sehingga memungkinkan kita untuk mengenal Allah dan memiliki hubungan dengan-Nya. Dia mati menggantikan kita, supaya kita memeroleh kehidupan kekal dan menjadi bagian dari keluarga Allah.

Di saat-saat yang spesial ini, ambillah kesempatan yang ada untuk menyatakan kepada semua orang apakah arti Natal bagi Anda. Janganlah lupa untuk mengikutsertakan jawaban dari ketiga pertanyaan ini.

| Selasa, Desember 23, 2008 |

RENUNGAN - 22 Desember 2008


Nilai Kerendahan Hati
Lukas 2:8-20

Alkitab tidak pernah menjadi kuno dan ketinggalan zaman. Saya tetap merasa disegarkan ketika menemukan ayat-ayat yang sudah saya pelajari 99 kali ataupun saya telah membacanya ratusan kali, mendorong saya untuk tetap merenungkan Firman itu. Di dalam kisah kelahiran Yesus, saya menemukan sebuah prinsip yang terjadi berulangkali di dalam Alkitab, yaitu Allah selalu menyampaikan pewahyuan-Nya kepada orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan. Seseorang dianggap layak di hadapan Tuhan bukan berdasarkan kedudukan, kemampuan, dan ketenarannya.

Karena Maria dan Yusuf berasal dari keluarga yang sederhana, hampir tidak bisa dipercaya bahwa mereka berdua merupakan orangtua dari Mesias. Sama seperti mereka yang terpilih untuk menerima kabar kelahiran Kristus, Yusuf dan Maria juga bukan orang yang memiliki status sosial yang tinggi, bahkan para gembala termasuk di dalam kelas yang paling rendah. Allah menyatakan rencana-Nya kepada individu-individu ini bukan karena status keduniawian mereka, tetapi karena hati mereka benar di hadapan Allah. Allah memakai mereka yang memiliki hati sebagai hamba yang selalu berserah kepada kehendak-Nya.

Ketika Allah menuntun kita kepada sebuah pekerjaan yang besar, mungkin kita bertanya-tanya, mengapa aku yang dipilih? Kita seringkali tergoda untuk berpikir, sesungguhnya Dia menginginkan orang yang memiliki keahlian lebih dan juga memiliki hikmat. Kenyataannya, banyak tokoh-tokoh Alkitab pun, seperti Gideon dan Musa yang mengutarakan sentimen yang serupa kepada Allah (Hakim-hakim 6:15; Keluaran 3:11). Tetapi kita tidak boleh membiarkan kekurangan kita menghalangi kita dari menaati perintah-Nya. Apabila Allah memilih kita untuk melakukan suatu tugas tertentu, maka Dia juga yang akan memberikan kekuatan dan hikmat untuk menyelesaikan tugas itu. Yang kita perlukan hanyalah kemauan dan roh yang taat.
| Minggu, Desember 21, 2008 |

RENUNGAN - 21 Desember 2008


Menelusuri Iman -- Ada Sukacita Dalam Kebenaran

Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak daripada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur” (Mazmur 4:7).

“Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Mazmur 16:11).

“Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita” (Mazmur 30:11).
“Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati” (Mazmur 97:11).

“Dasar firman-Mu adalah kebenaran dan segala hukum-hukum-Mu yang adil adalah untuk selama-lamanya” (Mazmur 119:160).

“Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Roma 8:2).

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (Yakobus 1:22).

“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Roma 14:17).

“Sebab aku sangat bersukacita, ketika beberapa saudara datang dan memberi kesaksian tentang hidupmu dalam kebenaran, sebab memang engkau hidup dalam kebenaran. Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar daripada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran” (III Yohanes 1:3-4).
| Minggu, Desember 21, 2008 |

RENUNGAN - 20 Desember 2008


Pelajaran dari Kelahiran Yesus
Lukas 2:1-7


Setiap bagian dari Alkitab memang sangat bermanfaat (II Timotius 3:16). Kita akan terkagum-kagum apabila kita menemukan kisah-kisah di dalam Alkitab yang menceritakan tentang Allah. Sebagai contoh, banyak keluarga yang melakukan tradisi Natal dengan cara membaca kisah kelahiran Yesus. Kisah tentang Yesus yang datang ke dunia untuk mati dan menebus semua dosa kita, sangat menyejukkan hati. Tetapi bagian terpenting dari kelahiran-Nya juga mengajarkan kita bahwa sesuatu yang tampaknya tidak berharga dapat memberikan dampak yang luar biasa.

Pada zaman Yesus, mereka menganggap bahwa Mesias akan datang sebagai orang yang memiliki kekuasaan dan kedudukan, yang akan membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan bangsa Romawi. Tetapi kenyataannya, Juruselamat dunia yang hidup, wafat, bangkit dan naik ke surga ternyata dilahirkan dalam keadaan yang sederhana. Yusuf dan Maria bukanlah orang yang memiliki kedudukan atau kuasa politik di Betlehem, kota kelahiran Yesus. Sehingga mereka yang menantikan Mesias menurut status keduniawian tidak menyadari bahwa Juruselamat telah datang.

Sebagai orang percaya zaman ini, kita tidak boleh memiliki pandangan yang sempit dengan merendahkan keberadaan Yesus saat itu. Kita seringkali mengabaikan sesuatu yang kelihatannya tidak berharga ketika kita menantikan tindakan yang akan dilakukan Allah untuk menolong kita. Perhatian kita yang hanya tertuju kepada situasi dan bagaimana permasalahan tersebut diselesaikan, membuat kita lupa bahwa Allah memiliki cara-cara yang tak terduga dalam setiap pekerjaan-Nya.


Orang-orang pilihan Allah dipanggil untuk hidup dengan mata dan hati yang terbuka bagi pimpinan-Nya. Ketika kita mencari kehendak-Nya dan berkomitmen untuk mengikuti-Nya di dalam segala hal, maka kita tidak akan kehilangan kesempatan untuk taat kepada-Nya. Dan ketaatan kita, walaupun hanya dalam perkara-perkara kecil, memiliki upah yang besar dan bersifat kekal.
| Sabtu, Desember 20, 2008 |

Renungan, Jumat 19 Desember 2008

Rintangan Menikmati Allah

Roma 6:12-18


Beberapa tahun yang lalu saya pernah mengkonseling seorang wanita yang memiliki kepahitan terhadap ayahnya. Ayahnya menelantarkan keluarganya dan tidak mengakui wanita itu sebagai anaknya. Lalu pada suatu hari ayahnya jatuh sakit dan mencari wanita ini untuk meminta maaf, tetapi si anak menolak mendengarkan permintaan maaf ayahnya. Setelah ayahnya meninggal, ia tetap menyimpan kepahitan di dalam hatinya. Dan akhirnya ia menyesali perbuatannya, dan memberitahu saya bahwa ia tidak bisa bersukacita di hadapan Allah karena masih menyimpan kepahitan di dalam hatinya.

Salah satu peranan Roh Kudus adalah menuntun orang-orang percaya agar peka terhadap tindakan yang menentang kehendak Allah. Jika kita tetap bertahan dengan perilaku yang menentang kehendak Allah, maka kita akan membuat suara Roh Kudus yang ada di dalam kita menjadi tidak terdengar.

Dengan kata lain kita tidak memberikan kesempatan kepada Tuhan. Dosa yang tidak diakui akan membuat kita semakin jauh dari Allah, dan kita tidak bisa memiliki hubungan yang menyenangkan dengan-Nya.

Perbuatan dosa biasanya terasa nikmat untuk dilakukan, paling tidak untuk sementara. Sebagai contoh, kita dapat membenarkan rasa kepahitan di dalam hati kita, ketika seseorang melakukan kesalahan terhadap kita.

Terkadang kita tetap memendam rasa dendam dan tetap membiarkannya berkepanjangan di dalam hati kita. Tetapi sebagai orang percaya, kita tidak boleh menjalani hidup kita dengan perasaan. Kita harus menuruti kebenaran Allah. Alkitab berkata bahwa jika kita menolak untuk mengaku dan bertobat, maka dosa akan memperbudak hati kita dan menghancurkan kesaksian kita.

Iblis menggoda kita dengan dosa-dosa yang tampaknya baik. Suatu kebiasaan yang menyenangkan atau yang menghibur tentu lebih mudah dilakukan daripada suatu hal yang menjijikkan. Tetapi tidak ada seorang pun yang merasa benar-benar merasa terhibur setelah melakukan dosa.

Sukacita yang sejati hanya ditemukan di dalam persekutuan dengan Tuhan.

| Jumat, Desember 19, 2008 |

Renungan, Desember 2008


Damai Yang Diberikan Yesus
Roma 5:1-9

Tanyakanlah kepada orang-orang di sekeliling Anda pertanyaan ini: “Apakah yang membuat Anda merasakan damai?” Mungkin Anda akan menerima jawaban yang sudah biasa Anda dengar. Damai yang mereka maksudkan kebanyakan bergantung pada situasi: hubungan yang baik dengan pasangan, pekerjaan yang baik, atau tubuh yang sehat. Namun apa yang terjadi bila mereka bertengkar dengan pasangan, gaji mereka ditunda, atau penyakit menggerogoti tubuh mereka? Damai yang bergantung pada situasi sebenarnya bukanlah damai sama sekali, melainkan suatu harmoni yang rapuh antara manusia dan dunia, sehingga sangat mudah untuk diputarbalikkan.

Yesus Kristus menawarkan damai yang sejati, yaitu suatu kepuasan yang terus-menerus dan tidak dapat lenyap, tanpa terpengaruh apapun yang dilemparkan Setan atau dunia. Namun, kehidupan yang berdosa akan menutup jalan bagi hadirnya damai di hati, karena bagaimana mungkin seseorang mengalami jaminan akan pemeliharaan Allah bila ia sendiri bertindak melawan kehendak-Nya? Bila seorang beriman hidup dalam imannya kepada Yesus, seharusnya kendali atas diri sendiri pun diserahkan kepada-Nya. Penyerahan diri inilah yang memungkinkan damai-Nya merasuki kehidupan kita.

Bila Roh Kudus hidup di dalam kita, kita akan mampu menghadapi apapun di dalam hidup ini dengan keyakinan dan ketenangan. Satu-satunya jalan untuk mendapatkan damai yang sejati adalah melalui hubungan dengan Juruselamat. Paulus menjelaskan di dalam Roma 5:1 bahwa untuk dapat dibenarkan yakni, dinyatakan tanpa bersalah kita harus menerima pengorbanan Kristus yang dilakukan-Nya menggantikan tempat kita. Pembenaran dari Kristus itulah yang membuat kita benar di hadapan Allah dan membawa hati kita kepada kedamaian.

Jika Anda belum mengenal Allah dan mengakui pengorbanan Anak-Nya yang penuh kasih yang dilakukan-Nya bagi Anda, maka Anda belum memiliki damai yang sejati. Sekaranglah saat yang tepat untuk berserah kepada-Nya.

| Kamis, Desember 18, 2008 |

Warta Anastrofe - Desember 2008



| Kamis, Desember 11, 2008 |

Jadwal Ibadah

| Kamis, Desember 11, 2008 |

Pena Gembala

Pdt. David Djaja
No. 9 / Desember 2008.

Shalom kekasih Kristus, tentunya semua dalam keadaan sukacita dan kemenangan bersama Kristus. Kita semua menyadari dan juga mungkin ada yang sedang mengalami dampak dari krisis global terutama dalam hal kebutuhan kehidupan akhir-akhir ini, namun saya sangat percaya sebagai pengikut Kristus kita tidak pasrah dan menyerah dengan keadaan melain-kan senantiasa mengandalkan Iman kita pada kekuatan dan kemampuan Allah kita di dalam nama Yesus Kristus, Amin !!
Kenapa saya katakan demikian ? Berdasarkan Injil Mat.1: 21-23; Yoh.3:16 dan1 Yoh. 3:9, saya sangat percaya bahwa Yesus bukan saja hanya mene-bus dan menyelamatkan kita dari dosa dan menerima hidup yang kekal, tapi juga pasti mencukupi segala kebutuhan hidup kita saat ini – Yoh.10:10b.
Apalagi memasuki akhir tahun yang biasanya segala kebutuhan meningkat ’katanya’ untuk menyambut kelahiran Kristus segala sesuatu harus ’baru’.
Pada kesempatan ini izinkan saya menyampaikan kabar sukacita, ”kita harus membuang tradisi perayaan natal (pemakaian baju dan sepatu serta assesoris yang harus baru) dan menggantinya dengan menikmati makna dari kelahiran Kristus bagi kehidupan pribadi, keluarga serta komunitas kita.”
Kita harus mengingat senantiasa bahwa, Kelahiran Yesus bagi hidup kita sebagai manusia merupakan awal perubahan dari hidup yang tidak berarti menjadi sangat berarti, dari tidak mempunyai harapan sekarang senantiasa berpengharapan dan bahkan yang tadinya tidak ada damai sejahtera jadi memiliki damai sejahtera, sehingga tentunya lebih siap didalam menghadapi hidup.
Oleh sebab itu sebagai HambaNya saya menghimbau agar pada natal tahun ini kita sebagai Keluarga Besar Happy Sword Family sudah harus memulai memiliki keinginan untuk merubah cara pandang (paradigma) dan cara hidup yang sesuai dengan maksud dan tujuan Kristus hadir melalui kelahir-anNya bagi kehidupan manusia, yaitu natal bukan untuk berpesta-pora dan memuaskan keinginan daging dan keinginan mata, melainkan; natal melalui kelahiran Kristus seharusnya memberi inspirasi kepada kita untuk memaknai Kasih (memberi dan berkorban) sebagai gaya hidup nyata kita terhadap Yesus sebagai Juruselamat kita dan juga tentunya kepada sesama manusia.
Secara Alkitabiah seharusnya kelahiran Kristus dalam kehidupan kita mem-buat sebuah perubahan karakter, sesuai Kis.12:2 > ”Janganlah kamu menja di serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu,”
Kata yang di pakai adalah anakainôsis yang artinya memperbaharui.
Jadi, sudah sepantasnyalah orang yang sudah menerima kelahiran Tuhan Yesus Kristus dalam kehidupan pribadinya, memperbahrui manusia yang lama menjadi manusia yang baru – II Kor.5:17.
Hasilnya, ” Dampak perubahan hidup adalah disukai semua orang sehingga terjadi pelipatgandaan (multiplikasi).” Kis.2:42 – Thema 2009.
Akhir kata saya HambaNya dan keluarga mengucapkan : Selamat Hari Natal 2008 dan Tahun Baru 2009. (Pdt. David Djaja).
| Kamis, Desember 11, 2008 |
Back to Top